Connect with us

Hi, mencari berita tertentu?

Bisnis

Sering Disebut-sebut, Sebenarnya Apa Itu Resesi?

Ilustrasi resesi (Foto: Pixabay)

Bekasikinian.com, Bekasi – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI terkontraksi -5,32 persen di kuartal II 2020.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif ini membuat RI masuk masa-masa jelang resesi, utamanya bila pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 kembali terkontraksi.

Beberapa pihak bahkan beranggapan, Indonesia sudah masuk fase resesi karena pertumbuhan secara kuartal ke kuartal telah negatif 2 kuartal berturut-turut. Kalimat resesi ini akhirnya menjadi tidak asik di pendengaran kita sehari-hari. Lalu, apa itu yang disebut-sebut resesi?

Mengutip publikasi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), Kamis (6/8/2020), tak ada definisi resmi tentang resesi.

Namun ada pengakuan umum istilah resesi yang mengacu pada periode penurunan aktifitas ekonomi. Periode penurunan yang sangat singkat tidak dianggap sebagai resesi.

Sebagian besar analis mendefinisikan resesi sebagai pertumbuhan ekonomi negatif berturut-turut selama dua kuartal atau bahkan bisa lebih.

Di Amerika, Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) menggunakan definisi yang lebih luas dan mempertimbangkan sejumlah ukuran aktifitas untuk menentukan suatu negara terjadi resesi atau tidak.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Komite Penanggalan Siklus Bisnis NBER mengartikan resesi sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh komponen, dan aktivitas ekonomi tersebut berlangsung dalam kurun waktu lebih dari beberapa bulan.

Penurunan ini biasanya terlihat dalam produksi, pekerjaan, pendapatan riil, dan indikator lainnya. Meskipun ekonomi dapat menunjukkan tanda pelemahan ekonomi berbulan-bulan sebelum resesi dimulai, proses untuk menentukan apakah suatu negara masuk dalam resesi seringkali membutuhkan waktu.

Misalnya, perlu waktu satu tahun bagi komite NBER untuk mengumumkan awal dan akhir dari resesi Amerika. Proses pengambilan keputusan melibatkan penurunan yang luas dalam kegiatan ekonomi selama periode waktu yang lama, setelah mengumpulkan dan memilah-milah banyak variabel.

Kenapa bisa resesi terjadi?

Ada berbagai alasan mengapa resesi bisa terjadi. Salah satunya berkaitan dengan perubahan harga komoditas yang terlalu tajam, yang biasanya digunakan dalam memproduksi barang dan jasa.

Sebagai contoh, kenaikan harga minyak yang membuat energi mahal. Saat energi mahal, harga-harga lain akan meningkat secara keseluruhan dan menyebabkan penurunan permintaan.

Resesi juga dipicu oleh keputusan suatu negara untuk mengurangi inflasi dengan menerapkan kebijakan moneter atau fiskal yang kontraktif. Jika digunakan secara berlebihan, kebijakan tersebut dapat menyebabkan penurunan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya berefek pada resesi.

Pemicu lainnya yaitu seperti yang dimulai pada tahun 2007, bersumber dari permasalahan pasar keuangan. Kenaikan tajam dalam harga aset dan ekspansi kredit yang cepat sering kali bertepatan dengan akumulasi utang yang cepat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Karena tiap-tiap perusahaan dan rumah tangga bekerja terlalu keras dan menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban hutangnya, mereka mengurangi investasi dan konsumsi, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan kegiatan ekonomi.

Resesi juga dapat disebabkan oleh penurunan permintaan eksternal, terutama di negara-negara dengan sektor ekspor yang kuat.

Baca juga: Sudah Terserap 101 Miliar, Realisasi Dana Covid-19 di Bekasi Masih Minim

Efek merugikan dari resesi di negara-negara besar  seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat dengan cepat dirasakan oleh mitra dagang regionalnya.

Pada tahun ini, resesi terjadi karena pandemi Covid-19 yang akhirnya otomatis sangat berdampak pertumbuhan ekonomi karena pergerakan manusia yang seharusnya menghasilkan justru dibatasi sebagai upaya mencegah penularan virus.

Karena resesi memiliki banyak penyebab potensial, maka sulit untuk memprediksinya.

Mengutip Business Insider, ada beberapa penyebab resesi bisa terjadi. Sebab penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan biasanya dipicu oleh kombinasi faktor-faktor yang luas dan saling berhubungan, diantaranya yaitu:

1. Guncangan ekonomi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Peristiwa-peristiwa terduga yang menyebabkan gangguan ekonomi yang meluas, seperti bencana alam atau serangan teroris maupun wabah penyakit.

2. Kehilangan kepercayaan konsumen.

Ketika konsumen mengkhawatirkan keadaan ekonomi, mereka akan memperlambat pengeluaran dan menyimpan/menabung sebisa mungkin. Informasi saja, pertumbuhan ekonomi akan sangat bergantung dari belanja konsumen dengan porsi lebih dari 50 persen. Karena perlambatan konsumsi inilah perekonomian dapat melambat secara drastis.

3. Suku bunga tinggi.

Suku bunga tinggi membuat konsumen yang ingin membeli rumah, mobil, dan pembelian besar lainnya menjadi sangat mahal. Perusahaan akhirnya mengurangi pengeluaran dan rencana pertumbuhan usaha karena pembiayaan terlalu tinggi itu.

4. Deflasi.

Harga produk dan aset turun karena penurunan permintaan yang besar. Ketika permintaan turun, harga pun ikut turun. Orang-orang yang menunda pembelian karena menunggu harga yang lebih rendah menyebabkan spiral aktivitas ekonomi yang lambat.

5.Gelembung aset.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Harga barang-barang seperti saham teknologi di era dot-com atau aset lainnya naik dengan cepat karena pembeli percaya bahwa harga akan terus meningkat. Tapi kemudian gelembung pecah, orang-orang kehilangan apa yang mereka miliki yang menyebabkan ketakutan muncul.

Akibatnya, orang dan perusahaan menarik kembali pengeluaran yang akhirnya memberi jalan pada resesi ekonomi.

Baca juga: Puluhan Tenaga Medis di Kabupaten Bekasi Positif Covid-19

Apa reaksimu setelah membaca artikel ini?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Komentar

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita terkait

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Penularan Covid-19 melalui klaster keluarga kerap terjadi di Kota Bekasi, klaster tertinggi penyebarannya tersebut kini mencapai 527 kasus...

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Mengenai harga test swab 900 ribu rupiah, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, menilai harga tersebut sudah cukup murah....

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Sudah empat hari berjalan, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, akhirnya mengubah keputusan pembatasan jam operasional dalam maklumat yang...

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Pemerintah Kota Bekasi untuk yang ketiga kalinya kembali perpanjang masa Adaptasi Tatanan Hidup Baru (ATHB) dalam upaya mencegah...

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil secara resmi mengeluarkan instruksi gubernur mengenai pembatasan aktivitas usaha kuliner di wilayah Bogor,...

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi secara resmi menerbitkan maklumat terkait pencegahan terjadinya lonjakan penularan Covid-19 di Kota Bekasi....

Kota Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kota Bekasi – Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi menerbitkan Maklumat untuk mencegah terjadinya lonjakan baru serta kewaspadaan terhadap risiko penularan, di...

Kabupaten Bekasi

Facebook Twitter WhatsAppBekasikinian.com, Kabupaten Bekasi – Ruang isolasi pasien Covid-19 di Kabupaten Bekasi saat ini terisi penuh. Pemerintah Kabupaten Bekasi menyebut, setiap pasien tanpa...